Desa Ketingan: Hunian Nyaman untuk Populasi Kuntul

Adakah yang pernah tahu atau mendengar tentang Desa Ketingan? Desa Ketingan adalah sebuah Desa yang berlokasi di sebelah selatan Kota Sleman, tepatnya di Kelurahan Tirtoadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Lokasi persisnya adalah di sebelah timur kantor Kecamatan Mlati. Desa Ketingan ini merupakan desa yang menyimpan kekayaan fauna berupa populasi burung kuntul. Kondisi Desa Ketingan yang merupakan wilayah subur yang memiliki areal sawah pertanian yang terbentang luas serta pekarangan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, membuat wilayah ini menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi ratusan spesies burung kuntul. 

Bagi Anda yang sering melintasi jalan ke arah utara selokan mataram menuju Cebongan pada pagi hari sebelum jam 8 atau sore hari setelah jam 16.30, akan dengan mudah menikmati suguhan indah berupa deretan burung kuntul yang berdiri berjejer di pinggir sawah ataupun pohon-pohon tinggi yang juga berada di pinggir jalan. 

Barangkali saya termasuk orang yang beruntung dapat menikmati suguhan pemandangan indah tersebut. Kemarin pagi, saya bersama Razan melewati jalan tersebut menuju RSUD Sleman tepat sebelum pukul 8. Dan betul saja, banyak sekali saya dapati burung kuntul di sawah dan pepohonan tinggi di sepanjang jalan yang saya lewati tersebut. Bukan hanya Razan yang senang, saya juga senang. Piknik yang tidak direncanakan, pikir saya. Sungguh burung-burung kuntul tersebut telah memikat hati saya dengan tubuh putihnya yang menurut saya indah dan juga dengan kepakan-kepakan sayapnya yang tak kalah memikat hati. Saya semakin merasa beruntung karena pulang dari Rumah Sakit, sekitar habis zuhur, oleh Bapak saya saya diajak melewati sawah yang berada di pedalaman Ketingan. Tak ada rumah di sana, sejauh mata memandang semuanya adalah hamparan hijau sawah membentang. Subhanallah, ternyata ya, piknik itu nggak perlu jauh dan mahal. Di dekat rumah saya pun ada dan gratiiiissss!!!!.




Ohya, burung-burung tersebut hanya bisa dilihat pagi-pagi sebelum jam 8 atau sore-sore kira-kira setelah pukul 16.30. Antara jam 8-16.30 tersebut burung-burung akan terbang ke arah selatan untuk mencari makan. Dan sekali lagi, saya termasuk orang yang beruntung karena setiap pagi saya dapat menikmati barisan burung-burung yang terbang ke arah selatan untuk mencari makan. Lokasi rumah saya kebetulan berada di sebelah selatan segaris dengan Desa Katingan, sehingga setiap pagi dilewati. Bisa dipastikan setiap pagi dan sore hari saya akan berada di halaman rumah menantikan barisan-barisan burung tersebut melintas. Dan razan dengan girang akan bilang 'da da uyung, da da uung' (dada burung). So, bagi yang penasaran, segera saja berkunjung. Keren loh, apalagi kalau habis hujan, suasananya dijamin topmarkotop :).


bukan SOFTWARE FREAK

Belakangan ini saya lagi gandrung mengotak-atik software, software apa saja. Mulai dari software untuk untuk presentasi seperti mindmanager sampai photoscape. Meskipun saya bukan software freak, saya cukup menyukai utak-atik software yang kira-kira bermanfaat untuk saya. Dan ini nih salah satu hasil karya saya mengutak-atik software. Masih amatiran dan tidak begitu bagus, tapi saya suka.

Hikmah kecil dibalik hujan angin hari ini

Hari ini hujan angin lagi. Derass, gelap dan anginnya juga kenceng sekali. Ya Allah, semoga nggak ada rumah yang rusak lagi ya. Musim hujan kali ini sepertinya sudah beberapa kali terjadi angin puting beliung. Seingat saya terakhir kali angin puting beliung terjadi pada tahun baru yang lalu di daerah Umbulharjo. Sebelum-sebelumya angin puting beliung terjadi di daerah Jambon, Kalasan, Melati dan Cebongan. Dan mungkin masih ada lagi di daerah lain di Jogja.

Sebenarnya bukan angin puting beliung yang ingin saya ceritakan di sini. Tetapi tentang kesungguhan Bapak Kebersihan di kampus dalam membersihkan air hujan yang menggenangi lantai-lantai di lorong kampus yang diakibatkan oleh hujan deras tadi. Saking kencengnya angin yang menyertai hujan hari ini, lantai-lantai di tempat kerja saya digenangi air hujan. Cukup mengganggu, jika tidak berhati-hati orang yang berjalan di lantai tersebut bisa terpeleset. 

Waktu saya hendak mengambil air wudhu, saya mendapati si bapak sedang serius membersihkan air dengan sebuah sekop untuk mengambil air dan mengumpulkannya ke dalam ember besar. Saya jadi terpikir, seandainya saja semua orang seperti si Bapak kebersihan. Dengan sepenuh hati mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya meskipun 'hanya' menjadi tukang kebersihan, profesi yang terkadang oleh beberapa orang dipandang sebelah mata. Bisa dibayangkan, jika Bapak kebersihan tersebut tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Kampus kotor, ruang kuliah menjadi tidak nyaman untuk dipakai belajar dan barangkali jika situasinya banjir karena air hujan seperti tadi banyak orang akan jatuh terpleset. Karena kesungguhan si Bapak dalam menjalankan amanah yang dititipkannya, lingkungan tempat kerja saya menjadi nyaman dan tentu saja tidak ada orang yang celaka karena terpleset air hujan.

Hmm..seandainya saja semua orang seperti Bapak itu ya. Pasti negara ini tidak begini situasinya.  Tentrem, ayem, dan yang pasti tidak ada ribut-ribut soal  korupsi. Hmmm..so sweet ya.

CD baru untuk Razan

Sudah bebarapa bulan ini Razan hobi sekali dengerin CD sholawat yang dibeliin pakdhe. Bukan CD sholawat dari artis terkenal, hanya rekaman sholawat acara tasyakuran khitanan yang kemudian di CDkan. Tapi Razan suka sekali. Razan bisa berjam-jam ngendon di kamar hanya untuk melihat dan menirukan sholawat itu. Bahkan bagi ibu saya yang kebetulan saya titipi razan saat saya tinggal bekerja, CD sholawat itu bisa jadi alat untuk 'nyencang' Razan agar bisa ditinggal sholat. 

Dan seminggu ini saya terus-menerus diprotes oleh Ibu, diminta untuk membelikan Razan CD yang lain, agar tidak CD yang itu-itu saja yang ditonton, kasihan kata ibu saya. Belilah CD yang layak ditonton Razan begitu tambah ibu saya. Dan hari ini Bunda membeli dua CD baru untukmu Nak, satu CD sholawat Cinta Rasul dan satu lagi CD Barney. Semoga Razan suka ya nak.
Ada yang lucu dari kebiasaan Razan mendengarkan sholawat ini. Saking seringnya Razan melototin sholawat tersebut, kadang-kadang Razan menirukannya dengan intonasi yang nggak jelas dan kedengaran aneh. Misalnya, kata 'sudur', Razan bilangnya cuma 'dul'. Dan kata-kata lain yang semuanya terdengar aneh saat diucapkan oleh Razan. Kami sering tertawa-tawa melihatnya. 

Dari kebiasaan mendengar sholawat di CD itu juga, razan sering menirukan kalau ada suara lagu-lagu atau ada orang nyanyi. Seperti tadi pagi saat Mas Azam nyanyi ' satu-satu, aku cinta Allah, dua-dua cinta Rasulullah, tiga-tiga, cinta orang tua, satu-dua.tiga jalan menuju surga', Razan menirukannya dengan intonasi yang khas Razan. Kompak, kami serumah tertawa mendengarnya. Razan oh Razan, semoga kamu suka ya nak CD barunya.

Kenal Dimana?


a happy couple hujan-hujan
Kenal dimana? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sering muncul ketika dulu saya akan menikah. Saya tidak pernah menjawab pertanyaan tersebut dengan serius, karena pun saya jawab jujur, kadang orang yang mengajukan pertanyaan itu tidak percaya dengan jawaban saya (nah lo!). Kadang belum saya jawab pertanyaan itu, yang mengajukan pertanyaan sudah punya jawaban yang mereka karang semau mereka sendiri, seperti contohnya 'bojomu ki cah pondok wetan kui yo' dan sejumlah karangan jawaban yang lain yang kadang itu bikin saya pengen tertawa guling-guling. Akhirnya saya hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan senyum atau jika tidak saya akan bilang dulu dia (suami saya) adalah teman main saya. Dan mereka percaya saja.

Padahal bohong banget kalau saya bilang dia adalah teman main saya dahulu. Secara kenal saja belum lama. Itu pun nggak sengaja dikenalin sama temen SMA di rumah (btw terima kasih ya putri Yoni semoga nanti beneran dapat masjid ya :P). Berhubung waktu itu dikenalinnya sama-sama habis patah hati, sepertinya acara pedekatenya berjalan slowly but surely. Maksudnya kita sama-sama takut untuk membuat komitmen terlalu cepat (takut sakit hati lagi) tetapi sama-sama mengharapkan segera mendapatkan tambatan hati (cekikik-cekiki, ketawa-ketawa geli kalo inget proses itu). Dan lupa waktu itu gimana ceritanya tau-tau dia mengajak saya untuk berkenalan dengan kakak-kakak dan ibunya (tutup muka cekikikan sambil ke-GR-an). Dan berlanjutlah pada acara kunjungan-kunjungan keluarga dan akhirnya menikahlah kami. Benar-benar so singkat tetapi penuh perjuangan. Alhamdulillah kami mensyukuri kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada kami. Sampai kami dikaruniai little boy yang menambah kebahagiaan keluarga kecil kami. So, kenal dimana saya dengan suami saya dulu itu biar saya saja ya yang tahu sodara-sodara, dan monggo kalau pada mau menebak atau mengaranag dimana dulu saya kenal sama suami saya :D.

ART oh ART

Sudah hampir tiga minggu ini saya hidup tanpa ART aka asisten rumah tangga. Sebenarnya keluarga saya tipikal keluarga yang tidak pernah memiliki ART, semua-semua dikerjakan sendiri oleh Ibu saya dan (kadang) dibantuin oleh anak-anaknya. Dan saya mulai menggunakan ART tepatnya seminggu setelah kelahiran Razan. Seminggu pertama setelah kelahiran Razan, pekerjaan cuci-mencuci dikerjakan oleh suami saya. Namun karena suami saya mulai masuk kerja dan harus kembali berjauhan, maka Ibu saya mencarikan saya ART untuk urusan cuci-mencuci. Kurang lebih 15 bulan bersama ART saya, akhirnya sekarang saya kembali mengerjakan urusan cuci-mencuci sendiri.

Awal cerita kenapa saya tidak menggunakan ART adalah ketika saya pulang ke Ngawi saat liburan natal lalu. Karena otomatis tidak ada cucian di rumah, maka dia libur empat hari. Sekembalinya dari Ngawi, ART tersayang ternyata tidak juga ke rumah, padahal sudah dikasih tau kalau kami sudah di rumah. Ternyata oh ternyata, embak ART tersebut sakit. Dan setelah sembuh dari sakit embak ART cuma sekali saja ke rumah dan setelahnya nggak ke rumah lagi. Meski sudah disusulin juga untuk membantu ibu tapi nggak ke rumah juga. Tapi sebetulnya saya lebih menikmati mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, selain lebih 'marem' dg kualitas pekerjaan, pekerjaan rumah adalah ladang pahala buat saya.  Meskipun ada persoalan kalau saya lagi tepar, cucin dan kejaan rumah jadi menumpuk.

Open people's heart by doing a simple favour

Membuat orang lain bahagia tidak harus dengan memberikan hadiah yang megah dan mewah. Dengan memberikan senyum yang tulus pada orang lain ternyata cukup mampu membuat orang lain bahagia. Aku punya pengalaman dalam hal ini. Setidaknya minimal sekali dalam sebulan aku selalu mengunjungi kantor pos besar yogyakarta untuk mengusahakan keamanan masa depanku. Biasanya nggak lama, kurang lebih 10 menit kemudian langsung pergi. Biar sebentar, aku senang disana. Ada hal yang membuat aku bahagia ketika datang ke sana, tukang parkir di sebelah barat kantor pos yang sudah ‘sepuh’ dan ramah. Keramahan dan senyum tulusnya sering mengingatkanku pada bapak di rumah. Ada hal lain yang menarik dari Bapak itu. Biar sudah ‘sepuh’ Bapak itu punya semangat yang besar dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai tukang parkir. Diusianya yang sudah cukup tua dan ketika kekuatan fisik sudah tidak dimiliki lagi, beliau akan berusaha keras membantu pengunjung kantor pos memindahkan dan membelokkan setiap motor pengunjung kantor pos. aku salut banget. Melihat keikhlasan Bapak tukang parkir dalam menjalankan tugas tersebut akan seperti menemukan kedamaian hidup. Keikhlasannya membuat dunia ini terasa damai. His sincerity make this world in a better place… and less materialistic.
Sebelum meninggalkan area parkir barat kantor pos tersebut, beliau tidak akan pernah lupa mengucapkan pesan-pesan indah, dan do’a-do’a untuk pengunjung. Seperti layaknya orang tua yang melepas kepergian anaknya. Sederhana, tapi ucapannya mengingatkan bahwa dalam setiap perbuatan baik tersimpan tabungan buat hari nanti. Ditengah kehidupan yang materialis seringkali orang duluan bertanya,”Apa keuntungan (materi) yang bisa kudapet kalo aku melakukan ini?” dan lupa bahwa di baliknya ada ‘keuntungan’ sesuatu yang jauh lebih berharga - seandainya perbuatan tersebut disertai sesuatu bernama keikhlasan.
Semoga anda juga bisa merasakan kebahagiaan serupa dari sebuah senyum yang tulus.

#repost dari blog multiply saya yang sudah almarhum

tentang saya

Ibu dari dua anak-anak yang sehari-hari mengajar di Universitas Aisyiyah Yogyakarta serta peneliti tentang isu-isu kebijakan publik serta dinamika pemerintahan daerah

Selamat Datang

Selamat datang di blog pribadi saya. Blog ini merupakan kumpulan tulisan pribadi pengisi waktu luang, renungan dan juga rekaman jejak tumbuh kembang anak lanang kami, Razan. Semoga bermanfaat.
Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Translate

Popular Posts

Followers