Tampilkan postingan dengan label bunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bunda. Tampilkan semua postingan

Meninggalkan razan

Sudah hampir sebulan setelah berkegiatan di Papua. Untuk kedua kalinya harus meninggalkan Razan dan untuk pertama kalinya saya meninggalkan Razan dalam waktu yang agak lama. Pastinya sedih dan galau melanda saya saat itu. Awal mendapat informasi bahwa saya diminta turut serta rombongan, kebingungan berkecamuk dihari dan pikiran saya, antara keinginan berangkat dan tidak berangkat karena nggak tega ninggalin Razan. Sampai-sampai setiap orang saya mintai pendapat apakah sebaiknya berangkat atau tidak. Berkat dukungan suami dan orang tua, akhirnya saya jadi berangkat.

Kurang lebih 8 hari saya tinggalkan Razan di rumah bersama ayah, mbah uti dan mbah kakungnya. Selama 8 hari itu saya berusaha tenang dan menikmati setiap kegiatan saya agar Razan tidak rewel dirumah. Dan benar selama 8 hari itu saya sangat menikmati perjalanan dan kegiatan yang sangat mengagumkan dan mencengangkan.  Dan saya bersyukur sekali karena waktu itu saya memutuskan untuk berangkat, karena pembelajarannya sungguh sangat banyak dan berharga.

Berfoto di depan honai perempuan


Nah, hampir sebulan setelah perjalanan tersebut, sampai hari ini Razan masih parno aka takut kalau-kalau saya meninggalkannya pergi. Jika saya di dalam rumah memakai jilbab saja, bocah kecil itu sudah mbingungi untuk ikut dan minta saya gendong. Apalagi kalau sudah lihat saya pegag tas. Dijamin Razan akan teriak-teriak bilang 'ituk bundaaaa' #ikut bunda. Kalau sudah begitu saya harus menggendongnya dulu atau mengajaknya bermain dulu, baru saya bisa pergi. Tentu kepergian saya tanpa diketahui oleh razan yang sedang asyik bermain dan memilih yupi cicak.

Sebenarnya saya nggak mau pergi dengan cara 'nglimpekke' bocah. Tapi sampai saat ini saya belum menemukan cara jitu agar razan tidak nangis saat saya tinggalka untuk kerja. Mungkin karena juga masih anak-anak, sehingga razan belu paham kalau saya pergi untuk kerja nanti pulang lagi. Meskipun saya mencoba berulang kali menjelaskannya dengan bahasa Razan. Jika nanti waktunya tiba, mungkin razan nggak akan nangis lagi saat saya tinggal kerja. Tapi belum sekarang. Begitu kan Razan ? ***


Tentang Menjadi 'Bakul'

Sekolah lagi dan diberi kesempatan berziarah ke makam Nabi. Barangkali dua hal itu adalah dua mimpi besar saya yang sampai saat ini masih saya genggam erat dan terus diupayakan. Namun kawan, ada mimpi lain yang ingin saya wujudkan suatu saat jika Allah mengijinkan, memberikan rezeki dengan memiliki rumah dipinggir jalan, yang disana saya bisa membuka semacam warung, yang saya kelola sendiri sembari mengurus rumah dan keluarga #amin#. Di warung tersebut saya ingin berjualan alat tulis, buku, ataupun baju-baju muslim.

Mungkin bukan kebetulan jika saya punya mimpi jadi 'bakul' di warung yang saya miliki. Hampir 30 tahun saya tumbuh di tengah keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang. Bahkan sejak SMP saya sudah dilibatkan  secara langsung dengan aktivitas berdagang oleh orang tua saya.  Saya dilatih oleh orang tua saya untuk setidaknya mencari tambahan jajan. Dan saya ketagihan menjalaninya, sampai kuliah, saya masih terus menggeluti kegiatan perbakulan tersebut. Bersama kakak saya, saya berjualan apa saja yang laku di jual. Mulai dari bubur ayam, sandal, baju muslim, jilbab sampai baju batik anak-anak hasil karya ibu dan kakak saya. Alhamdulillah baju batik anak-anak ini masih terus berlanjut sampai sekarang dan berkembang ke jenis-jenis produk batik yang lain. Namun, sejak lulus kuliah saya tak lagi intens mengelolanya karena saya fokus pada pekerjaan baru saya. Dan sejak itu sampai saat ini kakak saya yang intense mengelolanya.

Meskipun begitu, saya masih memiliki ketertarikan yang kuat untuk kembali menekuni aktivitas perbakulan. Menurut saya ada kenikmatan tersendiri dari aktivitas tersebut. Dari kegiatan tersebut saya bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang, baik itu supplier maupun konsumen. Berdiskusi dengan mereka, bercerita ngalor-ngidul dan tak jarang akhirnya kami memiliki hubungan semacam persaudaraan. Pokoknya menyenangkan. Meski juga ada yang tidak menyenangkan dari aktivitas itu. Pendapatan yang kami peroleh sebagai bakul tidak menentu. Tergantung pada kapasitas modal dan moment, seperti moment liburan sekolah, liburan hari raya, long weekend atau pas libur sabtu-minggu. Di luar moment-moment itu pendapatannya sangat unpredictable. Tapi jadi bakul itu sungguh menyenangkan ^^.

Ngedapur Lagi

Belakangan ini saya merasa seperti penganten baru, baru saja menikah dan baru saja punya suami, punya keluarga baru dan suka masak-masak untuk keluarga barunya, ngedapur untuk keluarga tercinta. Sudah hampir dua bulan ini ayah aka suami saya pindah kerja di Jogja dan saya punya kegiatan baru, ngedapur untuk nyiapin buka-sahur ayah, dan nyiapin sarapan serta bekal makan siang ayah saat tidak puasa.

Dulu, pas ayah masih kerja di luar kota dan bercerita tentang menu-menu makan yang disantapnya saya sering merasa prihatin, makan sahur dan buka dengan menu 'sak kecekele' dan pula jam makan siang dan sarapan yang sering kali dirapel karena cari praktisnya. Dan betul saja, kebiasaan buruk tersebut berbuah pahit karena kemudian ayah terkena sakit lambung, bahkan harus cuti seminggu untuk benar-benar memulihkannya.

Pada saat-saat seperti itu saya sering bilang, coba saya boleh ikut ayah ke situ atau coba ayah kerja disini, pasti ayah nggak 'kapiran', ada yang ngopeni makan siang, sarapan, buka dan sahur. Dan sejak ayah kerja di Jogja, saya ditagih untuk selalu menyiapkan buka-sahur, sarapan dan bekal untuk kerja. Kegiatan baru yang cukup membuat saya 'nubruk-nubruk' di pagi hari dan juga membuat saya merasa puas karena bisa menyediakan makanan sehat untuk ayah dan si kecil Razan dan juga bis amengupayakan pola hidup sehat untuk ayah.

Selain karena request dari suami, aktivitas ngedapur juga karena tuntutan dari si kecil Razan. Sejak masih MPASI, Razan itu tidak begitu suka dengan masakan warung. Jadilah ibunya harus turun tangan sendiri untuk menyediakan maeman untuk Razan. Dan sebenarnya itu tidak terlalu repot, karena Razan itu doyan makan apa saja asal makana rumahan. Menu Sop Brokoli sampai telur goreng pun oke buat Razan asal itu bukan makanan warung.

Dan ternyata aktivitas ngedapur itu menyenangkan lo, bisa jadi tempat untuk beraktualisasi, mengeksplorasi kemampuan memasak dan mencoba menu-menu baru. Sayang, sekarang ini ngedapurnya masih di dapur mbah uti. Semoga ya segera punya dapur sendiri untuk bisa mengeksplor lebih banyak kemampuan ngedapurnya. amin :)

Spirit: The Stallion Of Cimmaron

Spirit: The Stallion Of Cimmaron, film lama, dirilis tahun 2002 dan saya baru menontonnya sekitar tahun 2003 bersama  Mas Thoriq. Film yang bagi saya inspirasinya tidak pernah habis ini telah menginspirasi saya dalam banyak hal, persahabatan, semangat pantang menyerah, dan tentang cinta. Banyak orang memuji film ini. Beberapa orang bahkan telah membuat reviewnya, tidak hanya dari sisi ceritanya, namun juga dari teknologi pembuatan filmnya. Animasinya keren. Beberapa review tersebut dapat dilihat di sini, di sini, di sini dan di sini.

Saking sukanya saya pada film ini, saya sering memaksa ponakan dan sodara-sodara saya untuk nonton film ini. Ohya, sudah ceritanya bagus, animasinya oke, soundtracknya juga top. Kolaborasi yang memang oke, top markotop dan sip markusip. Sampai sekarang kalau saya merasa membutuhkan inspirasi, saya masih sering menontonnya.





Bagi anda yang penasaran, anda bisa melihatnya di sini.

Kado terindah

Main dengan razan pagi-pagi diwarnai dengan acara jadukan. Bibir bunda berdarah dan jidat razan memerah. Masih tetep ketawa-ketawa, enggak nangis dan masih dilanjutkan dengan acara panjat-memanjat tumpukan bantal. Kali ini Razan ngglundung diantara tumpukan bantal, kasur dan lemari. 

Awalnya diam dan nggak nangis, lama-kelamaan nangis juga. Alamat ada yang sakit, pikir saya. Sambil Razan nenen, saya coba mencari-cari kalau ada bagian tubuh razan yang sakit. Sepertinya tidak ada. Dan razan main lagi. Menata-nata buku di rak, mengeluarkannya dari rak dan menggantinya dengan tempat minum Razan serta mainan-mainan lainnya. Khusyuk dan asik. 

Meskipun begitu, Razan tetap saja tau kalau mau ditinggal pergi dan akhirnya nangis. Ah toleku...meskipun ritual ini terjadi setiap hari dalam kehidupan kita, tetap saja kau tidak rela bunda tinggalkan. Dan semuanya berakhir dengan gendongan mbah kakung. Digendong di belakang, di atas tulang mbah kakung yang semakin hari kian renta. Tapi semuanya terasa damai. Razan tersenyum. Dan saya bisa dengan ikhlas meninggalkan razan. 

Senyum sumber semangat
Maafkan kami ya tole, karena Allah masih menghendaki untuk kita terus berjuang. Jika memang hidup harus berjuang, maka makna berjuang adalah hal terindah yang dapat kami berikan untukmu. Love you more Razan boy :-*

Susu UHT vs Susu Formula








Imel ini aku dapat berdasarkan pertanyaan yg kukirim ke redaksi susu ultra. Bagus buat menambah wawasan para orang tua. so selamat membaca ya.... mudah2an bermanfaat.
---- Original Message -----
From: "hany kurniasari" <hanny_sari@yahoo. com>
To: "ultra" <seputarsusu@ ultrajaya. co.id>
Sent: Friday, January 19, 2007 4:04 PM
Subject: Antara susu UHT dgn susu Formula
dear redaksi,
terima kasih sudah menjawab surat saya yg pertama dhl tentang susu dan Obat.
Skrg sy ingin menanyakan manfaat antara susu UHT dgn susu formula. Spt yg
diketahui susu Formula bayi sampai usia 5 thn sgt byk beredar baik merek
maupun kandungan gizinya. Yg ingin sy tanyakan:
1. Mana lebih baik kandungan gizi susu UHT dgn susu Formula?
2. sy perhatikan di luar negri sana tdk banyak ibu yg menggunakan susu
formula sbg pengganti ASI, melainkan menggunakan susu UHT. Bgmn cara
pemberian susu UHT kepada bayi diatas 1 thn utk beralih dari ASI?
3. Setelah ASI eksklusif 6 bln, susu apa yg baik diberikan kpd bayi sbg
tambahan?
Terima Kasih atas jwbnnya.
Jawaban Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS:
Terima kasih atas pertanyaan Ibu Hany,
Secara alami susu segar telah mengandung semua zat gizi dalam jumlah dan
komposisi yang baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sesuai dengan namanya,
susu formula adalah susu yang diformulasi dengan bahan-bahan lain, agar
memiliki komposisi seperti yang diinginkan. Itulah sebabnya, mengapa saat
ini di pasaran ditemui begitu banyak macam susu formula, masing-masing
dengan klaim dan iming-iming tertentu.
Bayi hingga usia 4-6 bulan sebaiknya memang mendapatkan ASI eksklusif Di
atas usia tersebut sudah saatnya untuk mendapatkan makanan pendamping ASI
(MP-ASI). Untuk sementara MP-ASI yang dipilihkan dapat berupa susu formula
khusus untuk bayi di atas 6 bulan. Bila nanti sudah berusia 9 bulan, bayi
ibu sudah bisa dilatih dengan susu UHT, tetapi harus diencerkan terlebih
dahulu dengan air. Apabila sudah berusia 12 bulan, susu UHT dapat diberikan
seutuhnya anak. Jumlah yang diberikan berkisar antara 2 - 3 gelas sehari (1
gelas = 250 ml)., sesuai kemampuan anak.
Susu UHT direkomendasikan untuk diberikan kepada anak usia di atas 12 bulan.
Dengan demikian putra Ibu sudah memenuhi kriteria tersebut. Budaya minum
susu UHT harus dipertahankan hingga usia balita, remaja, dewasa bahkan
lanjut usia. Karena melalui minum susu secara rutin, fisik anak akan tumbuh
secara optimum dan kuat, serta kesehatannya akan selalu terjaga prima
sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit.
Sejak dini harus diusahakan agar anak memiliki status gizi yang baik, yaitu
tidak kurang dan juga tidak lebih. Oleh karena itu, anak-anak harus
diusahakan memiliki status gizi yang baik melalui pola makan yang benar,
yaitu dengan menerapkan konsep menu seimbang. Menu seimbang artinya makanan
yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral, sesuai
dengan kebutuhan anak. Cara paling sederhana untuk memonitor status gizi
anak adalah dengan cara mengukur tinggi badan atau berat badan, serta
mencocokkannya dengan Tabel tinggi badan menurut umur atau Tabel berat badan
menurut umur. Tabel tersebut bisa dilihat di buku-buku tentang gizi atau
panduan rumah sakit.
Susu UHT (Ultra High Temperature) merupakan susu yang diolah dengan suhu
pemanasan sangat tinggi (135-145ºC) dalam waktu yang sangat singkat (2-5
detik). Pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi bertujuan untuk membunuh
seluruh mikroorganisme, baik pembusuk maupun patogen (penyebab penyakit).
Waktu pemanasan yang sangat singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan
nilai gizi susu, serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif
tidak berubah dibandingkan susu segarnya. Di dalam teknologi pangan, telah
diketahui bahwa pengolahan dengan suhu pemanasan yang tinggi tetapi dengan
waktu yang sangat singkat, lebih dapat menyelamatkan nilai gizi daripada
suhu pengolahan yang lebih rendah tetapi dengan waktu yang lebih
lama.Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT relatif lebih sedikit
pengaruhnya terhadap kerusakan zat-zat gizi, dibandingkan dengan pengolahan
susu bubuk.
Susu bubuk berasal susu segar yang kemudian dikeringkan, umumnya
menggunakan spray dryer atau roller dryer. Kerusakan protein sebesar 30%
dapat terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. Kerusakan
vitamin dan mineral juga lebih banyak terjadi pada pengolahan susu bubuk.
Susu UHT dapat dijadikan sebagai pengganti susu bubuk. Dalam beberapa hal,
susu UHT lebih praktis diberikan kepada anak-anak, yaitu mudah dibawa, tidak
perlu waktu untuk menyiapkannya, serta awet disimpan pada suhu kamar selama
10 bulan meskipun tanpa bahan pengawet. Konsumsi susu penting untuk
meningkatkan sistem imunitas (kekebalan) tubuh terhadap berbagai penyakit.
Sesungguhnya susu cair dapat diandalkan sebagai bahan pangan sumber zat gizi
yang sangat baik. Itulah alasan utamanya mengapa konsumsi susu cair di
dunia selalu lebih tinggi dibandingkan susu bubuk. Hanya di Indonesia,
berlaku hal sebaliknya. Hal tersebut merupakan warisan masa lalu, khususnya
di zaman penjajahan yang lebih mudah untuk mendistribusikan susu bubuk
ketimbang susu cair. Kendala lain di masa lalu adalah keterbatasan
teknologi pengolahan susu dan keterbatasan lemari pendingin.
Selain itu keunggulan susu UHT dibandingkan yang lain adalah: (1) aman untuk
dikonsumsi, karena telah bebas dari mikroba pembusuk dan mikroba penyebab
penyakit, (2) memiliki warna, rasa dan penampakan yang mirip susu sapi
segar, (3) susu bersifat awet dan tanpa bahan pengawet, (4) sangat praktis
untuk dikonsumsi dan tidak membutuhkan lemari pendingin, (5) mengandung zat
gizi yang sangat bermanfaat bagi pemeliharaan kesehatan tubuh yang optimal.
Semoga ibu & keluarga tetap mengkonsumsi susu UHT untuk memperoleh manfaat
yang optimal...
Salam Hangat,
seputar susu

(Sumber: http://ririegranita.blogspot.com/2008/11/susu-uht-vs-susu-formula.html?m=1)

Artikel Copas

Saya suka tulisan ini, bikin saya merasa 'mak jlep'. Sekedar bahan perenungan untuk saya. Saya hanya tinggal mensyukuri apa pun peran saya sekarang, sungguh di pelosok dunia lain, banyak perempuan yang nasibnya jauh lebih buruk dan membutuhkan uluran tangan kita. Wallahu’alambishawab

*****
Aku menemukan tulisan ini. Isinya bagus. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung pihak-pihak tertentu ya. Sekedar share bahwa Alloh telah menciptakan manusia, bukan hanya sebaik-baik bentuk, tapi juga sebaik-baiknya peran, amanah, tujuan, dan kefitrahan. Selamat membaca :)


Lega Bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga

 
Setelah saya pikir, yang berperan ganda siapa ya? Aku apa pembantuku nih


Selasa, 17 Juli 2012 
SEBELUM married, memang aku nginnya bekerja. Kelihatannya keren saja pokoknya bisa mencari duit sendiri. Kebetulan diajak teman ngelamar di Karawaci, eh aku diterima tapi temenku justru tidak lolos.

Waktu sudah married (Alhamdulillah suamiku, sudah punya pekerjaan mapan, rumah juga udah ada, Alhamdulillah banget deh pokoknya). Tapi tetap saja aku bilang sama suamiku kalau masih ingin bekerja. Memang sudah kita bahas kalau mencari nafkah itu kewajipan suami dst. Jadi alasan buat kerja di luar rumah memang kebanyakan buat pembenaran aja sih. Buat nambah income lah, biar nggak mubazir capek-capek kuliah, ingin berperan ganda, emansipasi, aktualiasasi diri bla bla bla.

Dandan cakep buat siapa yah?

Pagi-pagi, yang namanya dandan kayaknyanggak kelar-kelar, ada aja yang bikin tidak pede, suami aku sampai pencet-pencet klakson he he he… kalau orang Jawa sampe pencet klakson, berarti memang akunya saja yang nggak beres. Sudah begitu, di mobil masih aja benerin make up, suamiku menyetir, aku cuekin bodo amat! Turun dari mobil aku sudah cakep, wangi, rapih dan seksi. Hmm yang namanya Office Boy (OB) sampe Manager pada ngelirik deh (ah pada ngeres aja pikirannya… iya sih jujur aja, wanita mana sih yang nggak seneng kalau dikagumi?)

Pas sudah punya anak, masih tetap saja begini juga. Waktu ada teman bilang, “Eh kamu nggak nyangka lho kalau udah punya anak, bawaannya masih kayak gadis ajah. Rasanya sih seneng dengernya.”

Suatu hari, aku pernah mendengat tausyiah seorang ustad di Female FM tentang kecantikan seorang istri dan sikap terbaik baginya adalah hak suaminya. So what! jadi kalau ke kantor, memangnya nggak boleh dandan cakep gitu ya, pikirku!

Belakangan tiba-tiba hati ini merenung. “Ya Allah rupanya benar. Aku sudah serahkan haknya suamiku kepada ke suami-suami lain yang tidak berhak atas aku, setiap hari, bertahun-tahun… “

Emansipasi? Emang enak banget!

Sebenarnya aku sudah berterima kasih banget sama para tokoh-tokoh kewanitaan yang sudah rajin menyuarakan emansipasi untuk memperjuangkan kesamaan hak cowok ama cewek.

Di kantorku, gaji cewek sama gaji cowok untuk posisi yang sama tidak pernah dibedakan. Mulai bonus, tunjangan, semua sama.

Tapi kalau kewajiban sama nggak ya? Memang sih pada jabatan yang setara dengan jabatanku, temen-temen cowok kasihan juga kerjanya. Harus mengejar target ini lah, harus nge-deal kontrak itu lah, harus ke bea cukai lah, disemprot boss lah.

Pernah monitor komputerku mati bolak balik. Sebel!

Memang sih, aku tebak paling kabelnya ada yang longgar. Tapi masak sih, cewek kudu ngolong di meja?

Biasanya, kita, para wanita, tinggal angkat telpon, pakai sedikit rayuan kecil, langsung datang tuh orang bagian IT.

Memang enak banget emansipasi. Hak boleh sama tapi, kewajiban masak sama juga? Kayaknya tidak.

Professional

Aku suka geli sendiri. Kadang ada aja yang kelupaan. Lupa menaruh duit buat pembantu beli aqua, lupa bawa pembalut, lotion ketinggalan lah dll.

Jika Anda sekalian mau tahu, ini jadwal rutin kita para wanita karir;

•Begitu nyampai kantor langsung nelpon rumah untuk mem-briefing pembantu dari A ampe Z (manajerku saja gak rajin kasih briefing he he he)

•Habis menelpon sarapan deh ..(Mohon dipahami ya… jalanan Jakarta macet, kalau sarapan di rumah mana sempat?)

•Habis sarapan terus ngrumpi ..(wajib nih.. untuk berbagi info soal pendidikan anak, cinta laura, hem… tentang semalam bersama papanya anak-anak :)

•Habis ngrumpi apa lagi ya? Kadang si Nonik, toko berjalan bakal datang membawa dagangan, kemarin katanya mau membawa contoh high heel dll.

•Menelpon rumah lagi. Itu si bibi suka tidak nyambung, jika tidak diulang-ulang.

•Menelpon lagi… ngrumpi lagi… kabarnya si Komala baghaiman ya? Katanya, habis pap smear

• Paling demen kalau ada yang ngajak rujakan. “it’s a women thing you know.”

•Pekerjaan mah sambilan aja, yang penting beres, lho memang kenapa?

Well, ok mungkin it is not that bad ya..tapi coba deh kita evaluasi dengan jujur aja.

•Telpon yang ada di meja kita, lebih sering dibuat nelpon siapa coba? Urusan pribadi apa urusan kantor? Kalau pamer HP waaah nggak mau kalah deh, kalau Blackberry bosen ganti Android, tapi giliran nelpon anak di rumah, eh pakai telpon kantor :)

•Komputer lebih sering buat browsing mode baju, baca cerpen atau buat urusan kantor.

• Itu liat deh email kita masing-masing, ada berapa email yang kita kirim tiap hari? Berapa sih yang bener-bener buat pekerjaan? Paling emailan ngebahas ladies lunch, rasanin boss, gaji pembantu amah al-hal cewek doang isinya.

•Ketika kita lagi ngrumpi misalnya, sadar nggak sih kalau suara tawa kita cekikikan sudah ngeganggu para bapak-bapak yang lagi serius konsentrasi bekerja demi memastikan kalau nafkah yang mereka kasih untuk anak istrinya bener-bener halal dan toyyib. Kita mah cuek bebek aja ha ha hi hi!

Peran Ganda

Wanita bekerja kan dimitoskan sebagai wanita yang bisa menjalankan peran ganda yaitu mencari uang dan mendidik anak sekaligus. Pokoknya superwoman deh kayak lagunya Karyn White tahun 90-an.

Peran mencari uang dilakukan dengan cara “professional” yang dibahas di atas.

Nah peran mendidik anak ini yang ribetnya minta ampun. Memangnya cukup dengan mengangkat gagang telpon memberi instruksi kepada si bibik di rumah? so simple isn’t it?

Managemen waktu yang efektif adalah kunci sukses peran ganda, itu kata pakar kewanitaan.

Ya contoh aja, si bibi aku beri tahu jadwal jam-jam aku menelpon rumah agar dia bisa menyiapkan anakku di dekat telpon (hanya sekedar bertanya; udah makan belum, udah bobok?)

Si bibi juga harus dicerewetin agar kalau sore semuanya sudah beres, anak udah mandi, rumah udah bersih, makanan udah siap dll.

Setelah saya pikir, yang berperan ganda siapa ya? Aku apa pembantuku nih?

Pembantu gajinya pasti di bawah UMR (mau tanya, yang membayar gaji pembantu di atas UMR angka tangan deh!)

Pembantu kita kasih tugas ngerawat anak mulai nyuapin, nyebokin, mandiin, ngajarin nyanyi, seabrek.

Sudah begitu, pembantu juga masih kita beri tuga bersihkanrumah, mencuci, menyetrika celana dalam suami, dan kalau lagi pas aku telepon kadang dia lagi bikin sambel kesukaan suami.

Peran paling berat pembantuku sebenernya justru meladeniku yang sering ketus bin cerewet, tidak peduli semua kesulitan yang dia hadap untuk menjalan perintahku.

Padahal, di kantor, aku mah tinggal enaknya saja, kalau lagi ngrumpi suka tidak mau kalah mamerin anak aku udah bisa gini bisa begitu, kalau anakku dipuji orang, Hmm siapa dulu mamanya? Kalau anakku malu-maluin, tinggal bilang saja, “Iya tuh dasar pembantuku oon.”

Lho, suamiku bukan tipe orang rewel. Nasi tumis kacang panjang sama sambel terasi udah nambah bolak balik makan. Kalau cari praktisnya aja, pembantuku disuruh menyiapkan semua beres deh. (Idih boro-boro bikin sambel terasi, memegang terasi saja baunya mana tahan )

Tapi kok sama pembantu cuma digaji segitu sih? Pelit amat!

“Iya orang kerjanya nggak becus masak mau digaji tinggi.”

Kalau kerjanya nggak becus, kok dipasrahin merawat anak? He he he jadi yang nggak becus itu siapa?

Emang ironi 

Kalau aku ditanya siapa yang paling aku banggakan, aku pasti jawab Mamaku.

Aku ingat betul kalau aku mau pergi ke sekolah, mamaku menyisir rambutku, kadang dikuncir seperti ekor kuda. Kalau aku pulang sekolah pasti disambut peluk cium di depan pintu, terus ditanya dijarain apa nak? Mama I love you Mama.

Tapi kenapa ya, aku sendiri justru lebih bangga jadi wanita karir?

Mamaku orangnya sederhana banget tapi bisa mendidik membesarkan aku jadi sarjana kayak begini.

Nah aku sudah sarjana jsutru malah kebalik. Mendidik anak justru aku serahkan ke pembantu oon yang aku omelin tiap hari.

Fitnah

Namanya kantor ya kayak gitu itu deh. Cowok-cewek bukan muhrim bergaul tanpa batas. Lupa kalau itu suami orang atau sengaja menghilangkan jarak karena tiap hari bertemu. Demi selembar kertas kerjaan yang kita bahas, sudah deh, pasti lupa tuh sama perabotan kita. Kalau kita berdiri terus cowok temen kerja kita duduk, dada kita cuma berapa centi dari mulut cowok itu. Yang cowok juga kadang suka GR, sementara cewek juga suka mancing-mancing, jadi sama saja. Yang pakai jilbab-pun, sama aja becandanya. Mencubit suami orang, salaman sama suami orang dll itu mah hal biasa di kantoran. Pokoknya sama saja!

Aku sendiri juga jujur seneng banget kalau dibantuin, kan artinya aku lebih punya waktu lebih banyak buat ngrumpi, rujakan atau nelpon sana sini he he he.. Bodo amat kalau cowok yang bantuin aku jadi GR ato main hati. Pura-pura innocent ajah …. He he he …

Golden Age (Masa-masa emas yang tak akan pernah kembali)

Pasti ada perasaan bersalah yang muncul karena aku tidak bisa setiap waktu deket sama anak. Aku coba tutupin rasa bersalah itu pakai alasan-alasan pembenaran.

Sering ada yang cuap-cuap begini, “Yang penting kualitas bukan kuantitas. Jadi walaupun waktu kita untuk anak cuma sedikit tapi kalau berkualitas kan lebih baik.”

Lebih baik bagaimana maksudnya nih?

Kita nyimpen ASI di kulkas di kantor dan Astaghfirullah, itu apa pada nggak risih ya? ASI dijejer sama minuman punya orang lain, apa nggak risih ya ASI nya jadi perhatian dan bikin pikiran kotor suami orang.

Setelah seharian kita pajang di kulkas di kantor, baru deh sore harinya kita minumin ke anak kita.

Yakin tuh ASI kayak begitu lebih baik dan lebih barokah daripada ASI yang langsung kita minumin ke mulut anak kita?

Ketika anak-anak kita mulai bisa bicara, mulai berjalan dan mulai bertambah kepinterannya, apakah kita yakin lebih baik di banding pembantu kita yang dengan sabar menemani, menjag, mengajarin anak kita?

Ketika kita ambil rapot anak kita, apa kita yakin merasa lebih baik dan lebih terhormat daripada ibu-ibu yang tidak bekerja di kantor seperti kita?
Ibu-ibu itu mencurahkan kasih sayangnya dengan membelai tangannya sendiri, dengan nasihatnya sendiri, sementara aku menyapa anakku hanya dengan telpon kantor, pembantuku lebih sering memberi nasihat daripada aku yang cuma marah-marah aja kalau dilaporin pembantu.

Galau

Tapi, rupanya ada saat hati ini mulai tidak bisa dibohongi lagi.

“Mama kerja cari uang dulu buat kita jalan-jalan ya sayang, buat beli susu, buat beli bajunya Amy.”

Apa bener uang gajiku buat beli baju, beli susu dan buat jalan-jalan?
Tagihan kartu kredit dilaciku jadi jawabannya, yang beli HP baru, beli baju online, beli tablet buat fesbukan. Itu saja sering ditombokin suami.

Tausyiah itu akhirnya teringat kembali. Kecantikan dan sikap terbaik istri adalah hak suami. Sudah 5 tahun lebih aku kerja. Enjoy sih, suasana kerja penuh canda dan akrab, banyak yang kagum kecantikanku. Sakit hati sih kalau ada yang menikam dari belakang bilang aku ganjen, gatel ato genit.

Suamiku dan anak-anakku melepaskan hak mereka atasu, diikhlaskannya aku pergi keluar rumah, sementara aku membalas keikhlasan mereka dengan kelakuan yang seandainya mereka liat, pasti mereka akan kecewa.

“Ya Allah ya Rabbi… setiap hari selama bertahun-tahun aku sudah memberikan hak suamiku, hak anak-anakku kepada ke suami-suami lain yang tiada hak atas aku.”

Hati ini teriris setiap kali si kecilku Amy bilang, “Mama jangan kelja” setiap aku pamit berangkat kerja.

“Surga di bawah kaki ibu.”

Tapi masihkah surga ada di bawah kaki ibu seperti aku?

Ibu yang tidak menyusui anaknya 2 tahun penuh.

Ibu yang asik ngrumpi dikantor sementara anaknya main sama pembantu.

Ibu yang asik chating email sementara anaknya tidur siang didekap pembantu.

Ibu yang cuma bisa cerewet lewat telpon kantor nyuruh mandilah, makanlah, tidur sianglah.

Ibu yang sibuk buka internet kantor cari-cari baju terbaru biar tetep modis diliat (suami) orang.

Ibu yang asik makan siang bareng di café sementara anaknya disuapi pembantu.

Enough! I am coming home sweety. 

Keputusan berhenti kerja juga nggak mudah, tapi sebenarnya aku saja sih yang mellow. Teman-teman cewek bilang apa nggak sayang ninggalin kerjaan, eh tapi di belakangku mereka bilang aku berhenti kerja karena kasus ini dan itu, dasar!. Di hari terakhirku aku memberi kata-kata pesan perpisahan, “I miss you, friends forever, ah gombal pada lu semua!”

Suamiku bilang sebenernya dia sudah lama “ngebatin” ingin aku berhenti kerja. Dasar orang Jawa, coba bilang sejak dulu, mungkin aku bakal nurut.

Ridha Allah

Tiada yang lebih nyaman buat seorang hamba selain mengikuti Sunatullah. Suami dan perempuan punya fitrahnya sendiri, ikuti saja maka Allah akan melimpahkan ridha-NYA.
Alhamdulillah, keputusan berhenti bekerja adalah yang terbaik. Kini aku bebas menikmati saat-saat indah bersama bidadari kecilku Amy, kupastikan Amy mendapatkan cinta dan kasih sayangku selama aku masih hidup.

Dengan ridha Allah, aku juga tetap bisa punya penghasilan sendiri, berdua kakak perempuanku aku men gembankan bisnis cupcake online (many thanks to Pak Dani) Suamiku membelikan aku Honda Jazz second, asik juga bisa untuk mengantar pesanan cupcake dan buat antar-jemput sekolah buah hatiku.
SubhaAllah. Sungguh Allah tidak mengingkari janjiNYA. Allah cukupkan rizki orang yang bertawakal kepada NYA.

Penting lagi, aku bisa bebaskan diri ini dari fitnah, aku bisa jaga hak suamiku dan aku penuhi kewajibanku kepada anak-anak yang diamanahkan Allah kepadaku.

Eh doain aku ya biar cepet berhijab. Aku ingin berhijab lahir dan batin lillahi ta’ala. Maha Suci Engkau Ya Allah.*/Fany Farsadi, Ibu Rumah Tangga tinggal di Tangerang. Kisah ini ditulis berdasarkan pengamannya sendiri

copy paste dari: http://diari-perjalanan.blogspot.com/2012/07/lega-bisa-menjadi-ibu-rumah-tangga.html

Tepar Berjamaah

Sakit dan memaksakan diri untuk pergi bekerja itu sesuatu.Radang tenggorokan kambuh, kepala pusing dan badan yang gemreges membuat saya merasa tidak nyaman melakukan sesuatu. Pengennya bobok manis sambil ngeloni si Razan (ngarep.com) Tapi apa boleh buat, jika ada kewajiban yang harus dilaksanakan, maka niat bobok manis tersebut diurungkan dan ditunda realisasinya sampai nanti malam.

Kok ya kebetulan banget ya, Razan, saya, dan ayah sakit dalam waktu yang bersamaan. Kalau Razan sih sakitnya udah beberapa hari ini, meler a.k.a. flu yang disebabkan oleh cuaca yang dingin beberapa hari ini, hujan terus dan bisa jadi juga ketularan Mas Azzam yang memang sedang flu berat. Sementara ayah memang sudah langganan, kalau kecapekan dan cuacanya dingin dijamin langsung bersin-bersin dan meler. Nah khusus saya yang langganan terkena radang tenggorokan ini penyebabnya bisa bermacam-macam, diantaranya: kecapekan, karena meski Sabtu-Ahad Kemarin libur, hari Sabtu saya mondar-mandir ke acara nikahannya tetangga dan teman sewaktu dulu aktif di organisasi kampung. Ditambah hari minggunya diajakin ayah main ke Ngijon, tempatnya  tante fifi dan dilannjutkan berkunjung ke tempatnya budhe dhona di giwangan dan tempatnya mbah san di kricak. Dan berhasil sudah perjalanan di hari minggu itu membuat saya, ayah dan razan tepar tak berdaya. Meski sudah saya obati sendiri, tetep saja belum sembuh. Untung saja

Razan nggak rewel. Bahkan habis maghrib Razan sudah tidur, dan baru bangun jam 7 pagi. Itupun harus ada acara digangguin biar bangun :P. Untungnya lagi, kondisi ayah juga lumayan membaik setelah diberi obat andalan ayah. Saya jadi tidak begitu kuatir berjauhan dengan ayah sampai hari Rabu nanti dengan kondisi kesehatan yang berangsur-angsur fit. Tinggal saya ini yang masih memikirkan obat mujarab pereda sakit tenggorokan, ada yang tahu sodara-sodara? ***

bukan SOFTWARE FREAK

Belakangan ini saya lagi gandrung mengotak-atik software, software apa saja. Mulai dari software untuk untuk presentasi seperti mindmanager sampai photoscape. Meskipun saya bukan software freak, saya cukup menyukai utak-atik software yang kira-kira bermanfaat untuk saya. Dan ini nih salah satu hasil karya saya mengutak-atik software. Masih amatiran dan tidak begitu bagus, tapi saya suka.

Kenal Dimana?


a happy couple hujan-hujan
Kenal dimana? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sering muncul ketika dulu saya akan menikah. Saya tidak pernah menjawab pertanyaan tersebut dengan serius, karena pun saya jawab jujur, kadang orang yang mengajukan pertanyaan itu tidak percaya dengan jawaban saya (nah lo!). Kadang belum saya jawab pertanyaan itu, yang mengajukan pertanyaan sudah punya jawaban yang mereka karang semau mereka sendiri, seperti contohnya 'bojomu ki cah pondok wetan kui yo' dan sejumlah karangan jawaban yang lain yang kadang itu bikin saya pengen tertawa guling-guling. Akhirnya saya hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan senyum atau jika tidak saya akan bilang dulu dia (suami saya) adalah teman main saya. Dan mereka percaya saja.

Padahal bohong banget kalau saya bilang dia adalah teman main saya dahulu. Secara kenal saja belum lama. Itu pun nggak sengaja dikenalin sama temen SMA di rumah (btw terima kasih ya putri Yoni semoga nanti beneran dapat masjid ya :P). Berhubung waktu itu dikenalinnya sama-sama habis patah hati, sepertinya acara pedekatenya berjalan slowly but surely. Maksudnya kita sama-sama takut untuk membuat komitmen terlalu cepat (takut sakit hati lagi) tetapi sama-sama mengharapkan segera mendapatkan tambatan hati (cekikik-cekiki, ketawa-ketawa geli kalo inget proses itu). Dan lupa waktu itu gimana ceritanya tau-tau dia mengajak saya untuk berkenalan dengan kakak-kakak dan ibunya (tutup muka cekikikan sambil ke-GR-an). Dan berlanjutlah pada acara kunjungan-kunjungan keluarga dan akhirnya menikahlah kami. Benar-benar so singkat tetapi penuh perjuangan. Alhamdulillah kami mensyukuri kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada kami. Sampai kami dikaruniai little boy yang menambah kebahagiaan keluarga kecil kami. So, kenal dimana saya dengan suami saya dulu itu biar saya saja ya yang tahu sodara-sodara, dan monggo kalau pada mau menebak atau mengaranag dimana dulu saya kenal sama suami saya :D.

ART oh ART

Sudah hampir tiga minggu ini saya hidup tanpa ART aka asisten rumah tangga. Sebenarnya keluarga saya tipikal keluarga yang tidak pernah memiliki ART, semua-semua dikerjakan sendiri oleh Ibu saya dan (kadang) dibantuin oleh anak-anaknya. Dan saya mulai menggunakan ART tepatnya seminggu setelah kelahiran Razan. Seminggu pertama setelah kelahiran Razan, pekerjaan cuci-mencuci dikerjakan oleh suami saya. Namun karena suami saya mulai masuk kerja dan harus kembali berjauhan, maka Ibu saya mencarikan saya ART untuk urusan cuci-mencuci. Kurang lebih 15 bulan bersama ART saya, akhirnya sekarang saya kembali mengerjakan urusan cuci-mencuci sendiri.

Awal cerita kenapa saya tidak menggunakan ART adalah ketika saya pulang ke Ngawi saat liburan natal lalu. Karena otomatis tidak ada cucian di rumah, maka dia libur empat hari. Sekembalinya dari Ngawi, ART tersayang ternyata tidak juga ke rumah, padahal sudah dikasih tau kalau kami sudah di rumah. Ternyata oh ternyata, embak ART tersebut sakit. Dan setelah sembuh dari sakit embak ART cuma sekali saja ke rumah dan setelahnya nggak ke rumah lagi. Meski sudah disusulin juga untuk membantu ibu tapi nggak ke rumah juga. Tapi sebetulnya saya lebih menikmati mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, selain lebih 'marem' dg kualitas pekerjaan, pekerjaan rumah adalah ladang pahala buat saya.  Meskipun ada persoalan kalau saya lagi tepar, cucin dan kejaan rumah jadi menumpuk.

Setaun back to work

Hari ini genap setahun saya bekerja lagi setelah memiliki Razan. Teringat betapa berdarah-darahnya saat itu memutuskan meninggalkan razan dan kembali bekerja. Sebagai Ibu baru, memutuskan meninggalkan bayi yang masih berusia 40 hari untuk bekerja adalah hal yang sangat berat. Ditambah lagi tidak ada persiapan asip yang memadai untuk Razan. Padahal mimpi untuk memberikan asi ekslusif untuk Razan begitu kuat tertanam dalam diri saya. Bismillah, laa yukalifullahunafsan illa wus'aha, kalimat itu yang saya tanamkan kuat dalam diri saya. Ini amanah dan saya bisa. Allah bersama saya. Dan alhamdulillah Allah memberi kemudahan pada saya untuk menjalaninya. Tak terasa semuanya sudah setahun. Terima kasih untuk mbah kung dan mbah uti yang telah menemani razan, bude aflakhah, bude firoh, mbak wamdah dan mas azam yang juga telah menemai razan bermain. Dan terima kasih untuk ayah atas supportnya. I love you all :). Pelajaran pertama, bahagia bagi seorang ibu itu sangat sederhana, yaitu ketika ditinggal bekerja ada anggota keluarga yang bersedia 'ngopeni' anaknya di rumah.
Sekedar mengingat-ingat perjuangan menyiapkan asip untuk razan saat itu, setiap hari harus pumping empat sampai lima kali sehari. Dua kali di rumah dan tiga kali di kampus saat bekerja. Kesalahan saya waku itu adalah tidak mngantisipasi kemungkinan kontrak kerja yang diperpanjang, sehingga saya tidak punya stok asip.

Bosen dan capek itu pasti. Tapi komitmen untuk bisa asix adalah motivasi kuat yang membuat saya terus bersemangat. Juga adanya teman-teman seperjuangan, para pejuang asix. Kami saling menyemangati satu sama lain. Dan alhamdulilah anak-anak kami semuanya lulus asix. Pelajaran kedua, bahagia bagi seorang ibu itu sederhana, yaitu ketika bisa memberikan asix untuk anaknya :-).

Nulis Lagi

Saya sering tertawa-tawa sendirian jika membaca tulisan-tulisan pada blog pribadi saya ini. Bukan apa-apa, saya hanya merasa aneh, nggak pinter nulis tapi sok kepedean tulis-menulis. Sejujurnya saya pengen bisa nulis sesuatu yang bisa bermanfaat buat orang lain, tak perlu yang muluk-muluk dan ndakik-ndakik. Mungkin tulisan sederhana tentang keseharian saya.


Kebiasaan menulis sebetulnya sudah sering saya lakukan sejak saya masih duduk di bangku SD, hehe..minimal menulis diary gitulah. tapi menurut saya itu sudah lumayan. Tetapi sayangnya, saya kurang bisa memelihara semangat untuk menulis secara kontinyu alias angot-angoten. Kalau pengen ya nulis, kalau nggak pengen ya sudah. Kadang menyesal juga, kenapa kebiasaan menulis saya tidak saya pelihara. Barangkali kalau saya pelihara saya bisa nulis 'buku-bukuan', hehe. Pernah terbesit keinginan untuk suatu saat bisa bikin buku self publishing. Topiknya yang ringan-ringan saja, yang dekat dengan keseharian saya. Misalnya tentang parenting. 

Nah, sebelum bisa mewujudkan mimpi bikin buku, mungkin saya bisa memanfaatkan blog saya ini untuk belajar menulis :D. Banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari aktifitas menulis. Salah satu yang penting bagi saya dari manfaat menulis ini adalah saya lebih mudah mengenali diri saya sendiri.  Dan jika kebetulan tulisan yang saya tulis, saya post di blog dan memberi manfaat bagi yang membaca itu adalah nilai tambah yang sebagai manfaat lain dari menulis. Amin. Mudah-mudahan begitu yaa. Aktifitas Menulis baik itu di blog atau di media lain adalah ibarat kita sedang membuat matahari-matahari kecil yang bermanfaat untuk menerangi para pembaca blog kita (harapannya bermanfaat ya ^^).

Makin banyak menulis artinya makin terang sinar matahari kecil kita, apalagi kalau tulisan kita disenangi pembaca dan bermanfaat bagi orang lain, maka matahari kitapun akan menjadi semakin besar dan terang. Amin...Untuk itu yuk menulis lagi, semangat ^^

Dongeng-Mendongeng

Sejak masih hamil Razan, suami saya sering menganjurkan saya untuk membaca buku-buku cerita atau dongeng untuk Razan. Meski masih di dalam perut, Razan sudah bisa diajak berkomunikasi, begitu kata suami saya waktu itu. Sebenarnya saya tidak biasa melakukannya, tetapi karena dorongan dari suami, akhirnya saya melakukannya. Awalnya sih agak males ya, secara dari dulu saya nggak pernah dibacain dongeng juga oleh ortu saya (hihihi, protes), tetapi ternyata setelah melakukan mendongeng itu menyenangkan lo. Bahkan bikin ketagihan untuk mendongeng dan mendongeng lagi. Saking senengnya mendongeng, kemarin pas ulang tahun suami memberi hadiah beberapa buku dongeng untuk saya. Sambil menyelam minum air sih ya sebenernya. Maksudnya, sambil kasih hadiah ulang tahun untuk ibunya, sekalian bisa bikin anaknya pinter, hihihi. Pinter ya suami saya.

Saya semakin semangat membacakan dongeng untuk Razan setelah menemukan blog ini. Ternyata banyak sekali manfaat dari aktivitas baca dongeng ini, di samping membangun kecerdasan, membaca dongeng juga bisa semakin mendekatkan ibu dan anak. Tapi ya sodara-sodara, ibunya semangat gini, Razannya kalau di dongengin malah buku dongengnya ditarik-tarik biasanya sampe sobek-sobek :D. 

But no worries, proses sobek-menyobek bagi anak-anak itu juga adalah bagian dari 'belajar'. Tinggal bagaimana kita sebagi orang tua mengarahkannya. Betul begitu ya ibu-ibu, hehehe.  Barangkali dengan sobek-menyobek itu dia belajar untuk 'tertarik' mendengarkan dan memperhatikan apa yang didongengkan untuknya. So, semangat mendongeng untuk anak-anak kita ^^.

Lagu Rindu

Menemukan lagu untukmu teman di youtube.Jadi inget jaman perjuangan dulu sama temen-temen PII Slembar. Inget acara renungan sanlat di SMP 4 Gamping, inget batra, inget sama cerita-cerita dengan semacam gula.Kangen mereka euyy....Ini nih liriknya...

 Untukmu Teman
Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ikatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu
Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Munkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan
Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya
***

Anak lebih beken dari Siemak

Fenomena anak lebih beken dari pada emaknya ternyata tidak hanya terjadi pada saya, namun  jamak terjadi pada orang-orang di sekitar saya juga. Tidak sengaja tadi pagi ketemu guru jaman kuliah dulu di lorong fakultas. Kebetulan hari ini guru saya tersebut sedang berulang tahun. Judulnya sih mau ngucapin ulang tahun saja ke guru tersebut. Tapi dasar Ibu-Ibu, judulnya apa, yang dilakukan apa. Judulnya mau ngucapin ulang tahun, eh kok ya yang dilakukan ngobrol ngalor-ngidul. Dalam obrolan tersebut, Ibu guru tadi mengundang saya untuk main di rumah barunya, kebetulan lokasi rumah barunya 'agak-relatif dekat' dengan rumah kami (maksudnya sama-sama arah Jogja Barat). Ibu guru menjelaskan secara detil arah menuju rumahnya. Sebagai antisipasi apabila saya tidak menemukan rumah Ibu guru, saya kemudian bertanya, "Mbak (Ibu guru muda maksudnya), jika saya tidak menemukan rumahnya, bisakah saya menyebut nama njenengan?" maksud saya, jika saya keblasuk, terus saya tanya dimana rumah Ibu A pada orang-orang sekitar, mereka mudeng atau tidak. Ibu guru itu bilang begini, "Kayaknya sih mereka tau, tapi mereka akan lebih tahu kalau yang disebut adalah anak saya yang ragil". Bhahahaha...sontak saya ketawa. Setidaknya kasus yang sama terjadi pada saya. Anak saya lebih beken dari emaknya.

Razan getting diarrhea

Sedihnya 2 hari ini, My lil boy getting diarrhea. Awalnya pada hari minggu sore usai dikunjungi kakung dan uti dari Ngawi, Razan muntah-muntah. Penyebabnya barangkali karena ketularan Bunda yang memang lagi masuk angin. Seperti biasaya, si Ayah langsung super panik kalau mendapati Razan dalam kondisi seperti ini. Usai muntah razan memang agak rewel, nangis dan pengennya digendong terus.
Hari Seninnya, Razan terlihat seperti sudah membaik meskipun agak susah kalau dikasih maem. Hari Senin menjelang siang, mulailah razan beol agak cair. Hal itu terjadi sampai sore. Menjelang magrib Razan muntah lagi dan agak banyak. Bunda mulai agak khawatir, kok beol cairnya dilengkapi dengan muntah-muntah. Semoga hal buruk tidak terjadi padamu ya nak dan semoga kondisimu segera membaik. Satu hal yang sangat saya khawatirkan kalau Razan beol cair dan muntah begini, yaitu dehidrasi. Tidak berhenti sampai di situ saja, malamnya dari jam 21.30 sampai pagi Razan nangis terus. Barangkali perutnya terasa sakit melilit. Setelah nangis dia akan beol cair dan agak banyak. Setelah itu dia tidur lagi kemuidan nangis lagi dan beol lagi. Begitu ritmenya sampai pagi. Paniknya diriku melihat Razan tak kunjung membaik. Sempat terpikir membawa Razan ke RS saat dini hari karena Takut Razan kehabisan cairan elektrolit. Untungnya Razan mau minum banyak-banyak, baik itu asi maupun air putih.
Setelah hari agak terang segeralah Razan dibawa ke Dokter. Niatnya nanti siang mau di bawa ke RS deket rumah. tapi ternyata nggak ada dokter anak di poli pagi, adanya di poli sore. Dari pada kelamaan, sementara Razan membutuhkan penanganan segera maka diputuskanlah untuk pergi ke dokter anak terdekat. Dan untungnya waktu itu nggak ada pasien lagi sepi. Cuma kami satu-satunya pasien. Padahal biasanya super antri. Setelah diperiksa dan diobservasi dan diskusi akhirnya razan diberi beberapa obat, diantaranya Diazinc, lactobe dan hydrolite. Semoga cepet sembuh ya le Oh ya, ada banyak ilmu yang diperoleh hasil dari listen alot dari DSA razan tersebut. kapan-kapan akan dshare lagi diblog ini ya hasil listen alotnya.

ala ala 'keluarga budi'


4 days with my love Razan sudah berlalu. Cerita ini ibu budi pun telah usai. Masih ingat dengan cerita ini ibu budi  yang sering diajarkan saat kita SD? Sedikit mereview dulu saat saya SD, dalam pelajaran bahasa Indonesia sering dibacakan; Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi. Budi pergi ke sekolah. Bapak Budi pergi bekerja. Ibu memasak di rumah atau  Ibu bermain bersama adik di rumah. Kurang lebih begitu.  Kalimat tersebut menurut saya bukanlah kalimat sekedar kalimat. Kalimat tersebut diakui atau tidak membentuk pola pikir orang kebanyakan dan tertanam begitu kuat sehingga membentuk semacam budaya, bahwa Bapak (baca: laki-laki) itu harus keluar rumah, sementara Ibu (baca: perempuan) itu harus di rumah, entah untuk memasak atau untuk bermain di rumah. Intinya adalah beraktivitas di dalam rumah.
Well, tulisan saya ini tidak sedang membahas kontroversi peran laki-laki dan perempuan, tetapi lebih menceritakan keluarga kecil kami. Bunda, Ayah dan Razan. Sebagai keluarga kecil yang diidealkan tinggal satu atap – ibu,bapak, dan anak- , setiap hari bertemu dan berinteraksi secara fisik, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, saling membantu dan sebagainya, maka keluarga kami tidaklah ideal. Gambaran keluaraga kecil kami adalah Ayah bekerja di luar kota. Bunda dan Razan tinggal bersama mbah kakung dan mbah putri, dan jika siang Razan ditinggal oleh bunda untuk bekerja dan di rumah bersama mbah kakung dan mbah putri. Gambaran tersebut barangkali jauh dari ideal. Dan jika dilihat dari ‘kacamata ‘ budi tadi, maka keluarga kami sangat jauh dari kacamata normal.
Untuk itu mengapa, 4 hari kemarin saat liburan dari tanggal 17 sampai dengan tanggal 20 Mei menjadi hari istimewa bagi kami. Di hari-hari tersebut, kami bisa merasakan kehidupan ‘keluarga normal’ layaknya keluarga Budi. Ayah bekerja di Jogja (sehingga setiap hari bisa bertemu) dan bunda juga libur kerja (sehingga setiap hari bisa memasak di rumah dan bermain bersama Razan).  Hal yang sangat istimewa dan menyenangkan. Bisa memandikan Razan sendiri, menyuapinya, bermain-main dengan Razan, bisa mengajari Razan dan yang lebih istimewa adalah bisa setiap saat menyusui Razan saat Razan haus. Ahh..itu istimewa sekali. Itu adalah barang mahalllll saudara-saudara. Hehe
#21052012

1000 Inspirasi satu dedikasi


Pengen dan mau jadi ibu yang baik untuk anak-anak kita? Tidak tahu pertanyaana itu penting atau tidak untuk diajukan pada ibu-ibu. Namun jika pertanyaan tsb ditanyakan pada saya, dengan penuh keyakinan saya akan menjawab tidak sekedar pengen, tetepi mauuu sekali. Itikad itu sudah saya tanamkan dalam hati saya, bahkan jauh sebelum saya punya anak, jauh sebelum saya berencana menikah.
Dan sekarang saya sudah jadi ibu. Saya niatkah seluruh hidup saya untuk saya dedikasikan sebagai ibu bagi Razan. Banyak inspirasi untuk mewujudkannya, yang paling dekat adalah ibu dan ibu mertua. Masih banyak inspirasi yang lain. Tak terhitung, puluhan ratusan, ribuan bahkan. Dari ribuan inspirasi hanya satu dedikasi sebagai IBU.

tentang saya

Ibu dari dua anak-anak yang sehari-hari mengajar di Universitas Aisyiyah Yogyakarta serta peneliti tentang isu-isu kebijakan publik serta dinamika pemerintahan daerah

Selamat Datang

Selamat datang di blog pribadi saya. Blog ini merupakan kumpulan tulisan pribadi pengisi waktu luang, renungan dan juga rekaman jejak tumbuh kembang anak lanang kami, Razan. Semoga bermanfaat.
Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Translate

Popular Posts

Followers